Pojok Literasi

Robohnya Perpustakaan Desa, Matinya Minat Baca

Pemerintah pusat melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus berupaya meningkatkan minat baca dan penguatan literasi. Berbagaiprogram sudah dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional seperti program Bantuan Mobil Perpustakaan Keliling, Ponpes, Komunitas, Pocadi, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Bahan Bacaan Bermutu (BBB).

Sasaran program Perpustalaan Naional adalah Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Kelurahan/Desa, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Rumah Sakit Daerah, Puskesmas, Tampat Ibadah dan lain sebagainya. Selain itu bantua  itu meliputi bantuan buku bacaan cetak, buku digital, rak buku, mobil perpustalaan keliling.

Upaya-upaya yang sudah dilakukan perpustakaan nasional untuk meningkatkan minat baca dan penguatan literasi anak-anak, remaja, masyarakat pada umumnya tidak akan membuahkan hasil jika Perpustakaan Daerah, Lurah/Kepala Desa/Pengelola Perpustakaan Desa/TBM tidak memberdayakan dan manfaatakan program bantuan dengan maksimal.

sumber foto: dok asp

Contohnya saja Perpustakaan Kelurahan atau Perpustakaan Desa sudah mendapat bantuan rak buku, buku bacaan bermutu dan bantuan lainnya, namun Perpustakaan Kelurahan atau Desa tidak melaksanakan kegiatan literasi yang melibatkan anak-anak ataupun masyarakat di sekitarnya untuk meningkatkan minat baca anak-anak.

Faktanya Perpustakaan Kelurahan/ Desa sangat sepi pengunjung bahkan hampir tidak ada pengunjung atau upaya dari pengelola perpustakaan untuk meramaikan perpustakaan desa hampir tidak ada.

  • Perpustakaan kelurahan/desa tidak melakukan sosialisasi akan kehadiran perpustakaan kelurahan/desa.
  • Tidak adanya papa nama perpustakaan desa
  • Tata letak dan pajangan buku perpustakaan kelurahan/desa berantakan
  • Pengelola Perpustakaan Kelurahan/Desa tidak paham apa yang menjadi tugasnya
  • Honor Pengelola Perpustakaan Desa sangat kecil
  • Tidak adanya anggaran rutin dari Kelurahan/Desa untuk Perpustakaan Desa
  • Perpustakaan Desa kurang mendapat perhatian dari Lurah/Kepala Desa setempat
  • Kurangnga pembinaan dan pengawasan dari perpustakaan daerah

Jika hal ini terus dibiarkan tanpa ada upaya-upaya pihak terkait yang memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membangkitkan Perpustakaan Kelurahan/Desa lama-lama Perpustakaan Kelurahan/Desa akan roboh dan matinya minat baca generasi muda.

Alangkah berdosanya para pihak terkait yang sudah diberikan amanah dan jabatan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Untuk itu sebelum robohnya Perpustakaan Kelurahan/Desa dan matinya minat baca generasi muda. Perpustakaan Nasional melahirkan program Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) untuk terjun ke lapangan untuk menyelamatkan kapal-kapal yang hampir tenggelam dan roboh.

Relima yang di tugaskan Perpustakaan Nasional tidak akan maksimal jika pihak-pihak stageholder terkait tidak mendukungnya upaya-upaya Relima di daerah. Penyelamatan kapal-kapal yang hampir roboh dan tenggelam ini akan berhasil jika di dukung juga oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten/Kota atau Perpustakaan Daerah, Lurah/Kepala Desa, Pengelola Perpustakaan Kelurahan/Desa dan pihak-pihak lain. (**).

Oleh: Feryandi

Penulis Buku, Relima Perpusnas, 

Penulis:

Baca Juga