1. Beranda
  2. Berita Babel

Pangkalpinang

Pegiat Literasi Babel Feryandi Khawatir Perpustakaan Desa Akan Roboh

Oleh ,

ASPIRASIBABEL.com - Pangkalpinang - Saat ini perpustakaan desa/kelurahan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengalami badai cukup besar dan dalam situasi mengkhawatirkan. Pemerintah Provinsi maupun kabupaten sampai pemdes cenderung tidak peduli terhadap kegiatan pelibatan masyarakat di perpustakaan desa/kelurahan maupun TBM.

"Kondisi perpustakaan desa/kelurahan di Bangka Belitung saat ini sangat mengkhawatirkan. Banyak yang sudah tidak aktif, sebagian besar perpustakaan desa/kelurahan tidak ada pengelola, " ungkap Feryandi pegiat literasi Bangka Belitung yang pernah mendapat penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2025, Jumat (28/8/2026).

Rumah Literasi Pediakom Bangka Tengah Saat Membuka Lapak Baca Buku di Desa Batu Belubang. (ist). 

Menurut Feryandi yang biasa di sapa. Ferrt Komeng ini mengungkapkan sejak awal 2026 kondisi perpustakaan desa/kelurahan yang ada di Bangka Belitung sebagian besar sudah tidak tidak aktif lagi karena banyak pengelola perpustakaan desa/kelurahan mengundurkan diri. Penyebabnya pengelola tidak lagi mendapatkan honor dan tidak ada anggaran kegiatan literasi untuk perpustakaan desa/kelurahan.

Kondisi ini, menurut Feryandi sangat memperihatinkan. Pemerintah daerah harus lebih peduli terhadap minat baca dan penguatan literasi. Di sisi lain pemerintah selalu ingin literasi daerah baik tapi tidak menyiapkan anggaran untuk penguatan literasi.

Persoalan ini sudah kita sampaikan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Hingga saat ini belumnada gebrakan dari. Dinas terkait maupun kepala daerah upaya mencari solusi terbaik.

"Hal ini juga sudah kita sampaikan kepada Perpustakaan Nasional, tentang kondisi perpustakaan desa/kelurahan di Bangka Belitung, " ungkap Feryandi yang juga sebagai Koordinator Relima Perpusnas RI.

Lanjutnya, saat ini Perpustakaan Desa/Kelurahan sudah sudah di bantu Perpustakaan Nasional 1000 judul dan rak buku. Pemerintah desa hanya tinggal mengalokasikan anggaran honor pengelola dan kegiatan literasi. Selain itu, banyak juga sekolah-sekolah tang tidak ada pustakawan atau petugas pengelola perpustakaan.

Saya khawatir perpustakaan desa/kelurahan akan menjadi tempat tumpukan kertas dan sarang hantu. Perpustakaan sekolahenjadi gudang buku bukan tempat meningkatkan ilmu, jika terus dibiarkan begini tanpa ada yang peduli. (Asp*).

Berita Lainnya